Pembahasan materi pada tanggal 1 April 2013
Faktor-faktor situasional yang memengaruhi perilaku manusia diantaranya adalah faktor rancangan arsitektural, aktor temporal, suasana perilaku, teknologi, faktor sosial, lingkungan psikososial dan stimuli yang mendorong dan memperteguh individu. Kali ini akan berbagi pengalaman dari kehidupan sehari-hari saya yang berkaitan dengan faktor temporal.
Seiring dengan berjalannya waktu, dalam dunia perkuliahan memang tidak bisa di lepaskan dari tugas apalagi tingkatan semester yang semakin tinggi. hal ini berpengaruh pada sistem kerja otak pada tubuh kita, otak selalu diforsir terus menerus untuk bekerja bekerja dan bekerja, belajar mengerjakan tugas maupun belajar ketika mau ujian. Namun, kita tidak boleh egois untuk mengatur tubuh menjalankan rutinitas tanpa istirahat. Berhubungan dengan temporal yang mengandung artian bahwa setiap waktu dalam berkomunikasi itu mempunyai dampak yang berbeda-beda. Seperti saat kita berkomunikasi pada pagi hari, komunikasi itu akan sangat mudah untuk dicerna oleh otak dan pada siang hari otak sudah lelah dan sulit untuk menerima atas apa yang dikomunikasikan.
Tuesday, April 2, 2013
Monday, April 1, 2013
Proximal Clues ( jarak/kedekatan)
Materi tanggal 25 Maret 2013
Dalam kehidupan sehari-hari saya pernah mengalami hal yang
berhubungan dengan topik di atas. Pada suatu
hari saat jam kuliah di mulai segerombolan dari teman saya datang tanpa
salah satu teman saya. Jadi ada salah seorang yang dulu bersama-sama namun suatu
saat dia terpisah dari gerombolan tersebut. Ini situasi yang tidak sengaja saya
perhatikan dalam waktu tersebut. Dari hal ini saya sudah berfikir bahwa saya
mengartikan hubungan orang lain atas dasar jarak atau kedekatan yang mereka
lakukan. Hal ini juga pernah saya alami saat saya memerhatikan dua mahasiswa
yang berbeda jenis di kelas saya, awalnya mereka sangat dekat. Dan saya
langsung berfikir bahwa mereka mempunyai hubungan yang tidak biasa. Terkadang
saya juga merasa atau berfikir bahwa teman yang dekat dengan saya berarti teman
itu merasa klop atau suka dengan saya dan cocok berteman dengan saya. Namun,
mereka yang jauh dengan saya berati ada sesuatu yang dari dalam diri saya tidak
mereka sukai.
Monday, March 18, 2013
faktor kebiasaan
Indah Maharani
B.IK.2
125120201111051
Pembahasan tentang pertemuan tanggal 11 Maret 2013
Dalam kesempatan kali ini saya akan menceritakan kehidupan
nyata saya yang sesuai dengan faktor kebiasaan.
Berhubungan lagi dengan
kehidupan saya sehari-hari ketika saya menjadi ketua osis pada bangku
Sekolah Menengah Atas, hal ini menuntut saya untuk selalu berpakaian rapi
setiap saat di sekolah. Hal ini harus saya lakukan karena saya dalam periode
itu menjadi panutan atau cerminan dari siswa. Hal itu terbawa entah dimanapun
saya berada, saya selalu berpakaian rapi dan sopan. Meskipun itu tidak pada
lingkungan sekolah. Setelah jabatan saya berakhir, kebiasaan untuk berpakaian
rapi dan sikap tegas masih saya anut.
Demikian sedikit contoh tentang faktor kebiasaan dalam
psikologi komunikasi, dimana hal itu dapat mencerminkan juga kepribadian yang
ada pada diri saya.
The Use of Psychology in Communication
18 Maret 2013
Pada hari ini untuk pertama kali dalam semester dua diadakan
kuis untuk mata kuliah psikologi komunikasi. Dengan materi yang telah diberikan
dari awal memasuki semester dua sampai pada tanggal kuis itu ditentukan. Jadi
kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya tentang the use of psychology in communication dengan salah satu unsur di
dalamnya mengenai happines atau dalam
bahasa Indonesianya disebut kebahagiaan.
Dalam keadaan apapun dalam situasi apapun selalu saya
membutuhkan untuk sharing dengan teman atau sahabat atau hanya mengobrol untuk
hal-hal yang kurang penting. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dari situlah
kekrabatan atau pertemanan dapat berlangsung dengan erat. Dan dari obrolan
santai atau sharing itu saya dapat mendapatkan kesenangan yang luar biasa.
Karena dari situlah mungkin ada kata-kata yang mengganjal dalam hati saya yang
dapat membuat saya tertawa. Hal itu akan membangkitkan semangat baru untuk
melakukan aktivitas selanjutnya. Maka dari itu dari obrolan biasa akan
menciptakan rasa senang yang luar biasa. Dan saya juga bisa lega karena sudah
berbagi cerita dengan teman saya. Apalagi kalau cerita yang saya berikan itu
dapat bermanfaat untul orang lain.
Thursday, March 7, 2013
Humanistic Approach
Indah
Maharani
125120201111051
B.IK.2
Materi tanggal 4 maret 2013
Pada kesempatan kali ini saya akan
menceritaan pengalaman saya yang berkaitan dengan Humanistic Approach dimana
yang dijelaskan oleh Maslow dengan teorinya growth need. Dimana saya akan lebih baik jika
saya menjadi diri saya sendiri dengan kesadaran saya tidak ikut-ikut orang
lain, dan hal itu sesuai dengan lingkungan dimana saya tinggal.
Disini, di Malang saya tinggal
terpisah dengan kedua orang tua saya. Saya kesini merantau untuk melanjutkan
pendidikan di perguruan tinggi. Mendapatkan lingkungan baru di kosan, di
kampus, teman bergaul. Disitu jelas akan memengaruhi saya untuk berperilaku
atau menjalani kebiasaan setiap harinya. Akan tetapi, disini saya harus tetap
menjadi diri saya sendiri, menjadi pribadi saya sendiri dengan kepribadian yang
saya punya selama ini yang tumbuh di lingkungan dimana saya dilahirkan dahulu. Namun
dengan demikian bukan berarti saya tidak bisa menyesuaikan diri dengan
lingkungan baru dimana saya tinggal sekarang. Saya harus tetap menyesuaikan
diri, membaur dengan yang lain namun dalam artian saya tidak boleh terikut
arus. Saya harus punya kepribadian yang kuat, pendirian agar saya tidak mudah
untk dipengaruhi oleh orang lain. Saya disini tidak perlu untuk berpura-pura
menjadi orang lain, tapi cukup dengan menjadi diri saya sendiri. Dengan kesadaran
saya tidak mau ikut-ikutan orang lain entah dalam hal apapun. Baik dalam hal
berpakaian contoh yang paling kecil, mungkin disini banyak yang memakai pakaian
yang terbuka atau apalah ya namun disini dengan prinsip saya atau dengan
kemauan saya, saya tidak suka memakai hal yang seperti itu. Itu termasuk prnsip
hidup yang dimulai dari hal kecil namun bisa bermanfaat , namun disini saya
tetap sesuai dengan lingkungan dimana saya tinggal.
Itu beberapa contoh yang bisa saya
berikan, dimana contoh itu real terjadi dalam kehidupan saya. terimakasih sudah
membaca, tinggalkan kritik ataupun saran yang dapat membangun tulisan saya.
Saturday, March 2, 2013
Prediction of Responses (memory expierence)
Indah Maharani
125120201111051
B.IK.2
Materi tanggal 25 Februari 2013
PSYCHOLOGY IN COMMUNICATION APPROACHES :
Disini saya akan
membahas dari sisi prediction of responses (memory expierence) saya akan
membahasnya dengan langsung memberikan pengertian tersebut dengan contoh.
Dimana contoh ini adalah pengalam saya sendiri.
Suatu hari ketika
saya lulus dari Sekolah Menengah Akhir dan henak melanjutkan pendidikan menuju
perguruan tinggi favorit di Jawa Timur, Universitas Brawijaya salah satunya.
Otomatis saya disana, di Kota Malang akan tinggal hidup seorang diri tanpa
ayah, ibu, kakek, adik dan nenek tentunya saya akan kesulitan untuk mengatur kehiduapan sendiri.
Dari segi manejemen waktu atau uang tentunya. Kakek dan nenek yang biasanya
memberi uang saku saya dengan jumlah yang besar pada saat saya berada di SMA,
saya pun berharap dan membayangkan bahwa mereka juga akan memberikan uang saku
kepada saya dengan jumlah yang besar pula saat saya hendak pergi untuk menuntut
ilmu. Tetapi kenyataannya, setelah saya membayangkan uang yang diberi tersebut
sama jumlahnya ketika saya SMA kenyataan tersebut tidak berjalan dengan apa
yang saya harapkan. Atau bahkan lebih kecil jumlahnya, namun jumlah itu tidak
membuat saya kecewa. Bahkan memberikan saya semangat yang lebih besar untuk
menuntut ilmu demi mereka.
Dalam contoh tersebut
jelas tergambarkan bahwa prediction of responses9memory expierence) menjelaskan
bahwa apa yang akan saya alami lebih menggambarkan atau membayangkan akan
terjadi sesuai dengan pengalaman yang pernah saya alami. Namun kenyataanya akan
tidak selalu dengan apa yang selalu kita bayangkan atau sesuai dengan
pengalaman kita sebelumnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)